Life Recap 2010 - 2019: Perjalanan 1 Dekade



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Setelah kemarin merangkum catatan satu dekade dalam dunia tulis-menulis dan blogging, kali ini aku mau napak tilas perjalanan hidup 1 dekade. Hmm, kira-kira lebih banyak air mata bahagia atau sedihnya ya 10 tahun terakhir? 

Hidupku 10 Tahun Terakhir

2010

Pernikahanku masuk tahun kedua, artinya saat itu aku berusia 25 tahun. Masih emosian dan meledak-ledak. Aku ingat sekali pernah sangat marah sepulang kerja mendapati ada dua sepeda milik anak tetangga diparkir di teras rumah. Fyi, tetangga itu rumahnya lebih luas dan besar berkali-kali lipat dari rumah yang kutempati. Mereka juga punya garasi sendiri untuk sepeda anak-anaknya. Tapi ya gitu deh suka seenaknya makai lahan orang lain.

Dasar zaman segitu aku masih reaktif. Badan lelah setelah kerja 12 jam, sampai rumah pengennya rebahan, eh dapatin pemandangan kaya gitu. Kebetulan tempat yang dipakai parkir dua sepeda itu adalah lokasi di mana aku memarkir motorku. Langsung deh gedubrakan. Suami yang sudah pulang dan masih coding langsung bergegas keluar rumah. Tergopoh-gopoh dia tanya, “Ada apa?”

Dengan suara yang sengaja dikeraskan aku menjawab, “Besok lagi kalau ada yang mau parkir di rumah orang, tolong bilang biayanya RP 5000 sejam. Itu juga udah dikorting.” 




Suamiku yang baik hati itu hampir mengangkat sepeda-sepeda yang kutabrak, tapi kularang. “Biar yang punya sepeda yang angkat, memang kamu kacungnya mereka.”

Wow banget yaks? Yess, segitu gilanya aku saat itu. Saking gilanya sampai kami terpilih jadi Ketua RT dan Ibu PKK lo. Jelas kutolak mentah-mentah. Aku bilang ke suami, “Silakan kalau mau jadi Ketua RT, aku nggak mau jadi Ibu PKK.” Dirayunya dengan berbagai macam cara, aku tetap keukeuh nggak mau. Malah buku-buku administrasi PKK yang sudah dititipkan ke suami kusobek-sobek. Wkwk. Wis to beruntunglah kalian nggak kenal aku zaman dulu kala. Aku aja gilo sama diriku sendiri. 

Pada saat pemaksaan jadi Ketua RT itu terjadi, qodarullah bapak ibu sudah beli rumah di Klipang. Lalu karena aku terlalu jengkel dipaksa terus-terusan jadi Ibu PKK, aku bilang ke suami, “Kalau dipaksa terus-terusan, aku mau tinggal di Klipang saja sama bapak dan ibu.” Akhirnya kami pun melarikan diri deh ke Klipang.

2011



Aku diberi kepercayaan menjadi asisten manager di tempat kerjaku. Lalu aku juga dipindah ke kantor yang lebih dekat dengan rumah, di daerah Kedungmundu. Awal tahun dibuka dengan kesedihan yang sangat mendalam karena eyang putri tercinta meninggal dunia. Aku masih ingat sebelum meninggal, aku punya firasat pengen menjenguk eyang putri yang sudah tak sadarkan diri satu bulanan di rumah.

Saat sampai di rumah eyang, aku ngantuk dan tertidur di samping eyang putri sambil menggenggam tangan beliau. Dalam tidurku, aku bermimpi sedang berjalan bersama-sama eyang putri. Ternyata itu cara eyang putri berpamitan. Keesokan harinya eyang putri menghembuskan nafas terakhirnya disaksikan oleh eyang kakung sendiri.

Kehilangan eyang putri membuat kondisi ibu semakin drop. Pada saat yang bersamaan aku menyadari aku hamil 6 minggu. Rencana ke dokter sengaja aku dan suami tunda sampai masa berkabung selesai. Namun ternyata dua hari setelah eyang putri meninggal, ada bercak darah kutemukan di celana. Pada akhirnya kehamilan keduaku tersebut divonis blighted ovum lagi dan aku harus kuret.

Kuret yang kedua ini memberikan pengalaman yang membuatku trauma. Aku diberi pelajaran berharga oleh Allah tentang rasanya lumpuh. Aku dibuat paham bagaimana ibu melewati hari-harinya setiap hari. Tak bisa menggerakkan kaki. Sungguh stress sekali rasanya kita tak bisa mengontrol tubuh sendiri.

Belum lagi rasa sedihku karena kehilangan eyang putri dan kuretase kedua terobati, aku harus kembali melepas orang penting dalam hidupku. Bapak meninggal empat hari setelah aku bertambah usia.

Satu bulan kemudian, tak dinyana aku kembali hamil. Lagi-lagi flek-flek terjadi. Sudah lemas rasanya jika harus merasakan kuret yang ketiga. Namun Allah berkehendak lain, aku diberi kepercayaan untuk menimang buah hati. Akhir tahun ditutup dengan air mata gembira; pada akhirnya aku resmi menjadi seorang ibu dari anak perempuan yang sangat cantik.

2012



Pengalaman baru menjadi ibu sangat luar biasa. Aku memutuskan untuk resign, meski saat itu terpaksa. Saat itu aku belum ketemu dengan daycare terpercaya. Tidak kutemukan pula orang yang bisa momong anakku saat kutinggal kerja. 

Di saat aku masih galau karena resign, suami pun memutuskan untuk kerja di luar kota. Rasanya campur aduk. Kupikir jadi IRT lebih mudah dibandingkan kerja kantoran, ternyata 24 jam terasa kurang. Sambil momong anak bayi, aku juga diberi amanah untuk momong ibu yang memiliki penyakit stroke. Belum lagi menghadapi adik kandungku yang saat itu duduk di bangku SMA, kadang suka tengil gitu deh, namanya juga ABG.

Tanpa kusadari aku semakin mudah emosi, marah-marah nggak jelas. Bahkan bayi yang hampir 4 tahun kunanti pun tak bisa membuatku lebih sabar. Kadang aku nangis sesenggukan tanpa sebab. Entahlah apa saat itu aku baby blues atau post partum depression, yang pasti aku sering merasa so blue. 

Agar ilmu yang kudapat saat kuliah tak luntur, aku menerima les bahasa Inggris untuk anak SD - SMP. Banyak anak tetangga yang les di tempatku. Namun setelah aku mengenal dunia content writing, aku tak lagi menerima les. Menulis membuatku jauh lebih berbinar.

2013



Masih kuingat dengan jelas hari Jumat, 8 Februari 2013, rumahku mendadak menjadi lautan putih. Puluhan pelayat dengan seragam SMA Sultan Agung 1 berwarna putih memenuhi rumahku, salah satu dari pelayat itu ada mantan muridku saat aku masih mengajar di lembaga pendidikan. Hari itu aku harus melepas kepergian adik kandung tercinta.

Kepergian adikku memberikan pukulan telak kepadaku. Aku merasa gagal menjadi seorang kakak. Banyak hal yang kujanjikan padanya belum kutepati, dan dia sudah keburu pergi. Membuatku belajar untuk lebih pandai memanfaatkan waktu yang kupunya sebaik-baiknya, karena kita tak pernah tahu kapan hari terakhir kita di dunia. Sejak peristiwa kepergian adik, pada akhirnya suami kembali kerja di dalam kota. 

2014



Berita duka kembali menyapa. Setelah eyang putri, bapak, dan adik, kini aku harus melepas kepergian eyang kakung. Tubuh rentanya tak bisa menahan saat penyakit demam berdarah menyerang. Saat pertama kali mendengar kabar eyang kakung masuk rumah sakit, hatiku sudah ketar-ketir. Terakhir saat kujenguk beliau di rumah sakit, komunikasi kami hanya saling menatap tanpa suara. 

Kepergian eyang kakung menjadi pukulan dahsyat untuk ibu. Kondisi ibu semakin menurun. Jika sebelumnya masih cukup kuat untuk duduk dalam waktu yang lama, setelah kepergian yangkung ibu benar-benar drop dan kembali beraktivitas dengan tiduran di ranjangnya.

Aku mulai getol belajar parenting. Ifa yang sempat kusekolahkan sejak 2.5 tahun, akhirnya tidak menyelesaikan PAUD nya hingga akhir karena ada ketidaksepakatan visiku dengan pihak sekolah. Namun ada hikmahnya menyekolahkan Ifa, aku yang biasanya hanya menghabiskan waktu di rumah, jadi ketemu lebih banyak orang. Aku mulai ikut kelompok pengajian. Kata ibu dan suamiku sih aku jadi lebih tenang dan bisa mengontrol emosi semakin baik. Aku senang bisa kembali mengulang belajar hijaiyah, menghafal surat-surat dan jadi lebih tahu tentang aturan syariat.

Pada tahun ini juga aku mulai memutuskan untuk merubah penampilanku yang dulunya masih bercelana panjang, memaki baju 3/4 dan kerudung sekenanya. Aku mulai mengenakan gamis dan mengulurkan jilbab hingga ke dada.

2015



Jaringan pertemananku semakin luas. Aku banyak berkenalan dengan perempuan-perempuan hebat yang inspiratif dari grup-grup parenting. Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) adalah momen parenting terhebat yang pernah kuikuti. Di sini aku seperti dibukakan mata, telinga dan hati tentang kesalahan-kesalahan pengasuhan yang telah kulakukan pada anakku. Namun yang lebih wow adalah ketika sesi harus memaafkan kesalahan orangtua. 

Di PSPA juga ada sesi ngobrol antara suami istri. Sesi ini yang membuatku dan suami semakin kompak dalam hal pengasuhan anak. Sesi ini semakin menguatkan cita-cita kami saat berencana membangun rumah tangga. 

Di tahun ini aku ikut PSPA sampai dua kali, qodarullah yang satunya karena diperbantukan menjadi panitia. Aku ditawari Abah Ihsan untuk menjadi admin WAG alumni PSPA Semarang yang kini dikenal dengan Komunitas Yukjos. Alhamdulillah bersama teman-teman Yukjos, kami berhasil menghelat PDA yang kedua di Semarang dengan cukup sukses.

2016



Mama mertua datang mengunjungi keluarga besar di Semarang. Kami sempat jalan-jalan ke Umbul Sidomukti. Itu kali pertama Ifa bertemu omanya. Beberapa saat setelah kepulangan oma, aku mendapati hasil testpack berupa dua garis. Ya, aku hamil anak kedua. Meski baru telat satu minggu demi menghindari kejadian yang tak diinginkan, aku mengajak suami untuk bertemu dengan dr. Jati, Spog langganan kami. 

Alhamdulillah kehamilan keempatku ini berjalan tanpa ada halangan yang berarti. Ngebo dan nggak ada peristiwa flek-flek seperti sebelumnya. Semua berjalan begitu lancar. Hingga hari itu tiba… hari yang tak pernah kubayangkan akan terjadi. Jumat, 25 November 2016, ibu dilarikan ke IGD dan tak sadarkan diri! Sebagai satu-satunya anak kandung, aku harus menandatangani surat yang menyatakan ibu harus dirawat di ICU.

Mencoba tegar, tapi nyatanya aku rapuh. Kehamilanku saat itu memasuki 36 minggu. Beberapa kali sudah sering kontraksi palsu, namun tak kusangka malam itu perutku terus melilit. Aku pikir karena stress. Aku coba tenangkan diri dan mengajak bayi dalam perutku berbicara. Namun perutku terus terasa tak enak. 

Menjelang subuh tiba-tiba kurasakan ada air yang pecah. Seperti ini ternyata rasanya ketuban pecah! Bersyukur setelah pulang mengantar ibu ke IGD, aku memilih menginap di rumah bulik yang lokasinya tak jauh dari RS. Aku menggedor pintu kamar bulik. Om dan bulik tergopoh-gopoh melihat kondisiku. Dengan sigap om mencari taksi. Sungguh indah sekali, malamnya ibu yang digledek ke IGD, dan keesokan paginya aku yang jadi pasien IGD.

Anak lelakiku, hasil munajat panjang ibu, lahir dengan selamat lewat operasi sesar pada 06.06. Entah saat itu harus gembira atau sedih, rasanya campur aduk. Semakin tak karuan hati ini ketika kenyataan pahit harus menghampiri. Seminggu setelah kelahiran bujang cilik, aku harus merelakan ibu pergi untuk selama-lamanya.

Kukira selama ini aku telah menyiapkan segala kemungkinan terburuk, nyatanya aku tak sanggup. Aku masih kurang sabar dan belum maksimal merawat ibu. Ternyata benar kata ibu, aku merindukannya… selamanya. 

2017



Kehilangan ibu adalah salah satu momen terberat dalam hidup. Aku oleng. ASI-ku semakin seret, sementara Affan terdiagnosa bilirubin tinggi. Berkali-kali harus difototerapi dan rawat inap di RS. Dalam titik terendahku inilah, aku diselamatkan Allah lewat matrikulasi IIP batch #4. Aku sudah berencana mendaftar sejak batch #1, namun Allah punya rencana terbaik. 

Matrikulasi membuatku lebih berisi. Aku semakin mengenal diriku sendiri. Aku belajar mengatasi inner child-ku, meski sampai sekarang masih jadi PR. Aku bertemu dengan semakin banyak perempuan-perempuan keren nan inspiratif.

2018 



Masih berkutat dengan segala kegiatan IIP. Aku memberanikan diri menjadi fasilitator kelas matrikulasi batch #6, yang pada akhirnya mempertemukanku dengan banyak teman-teman keren lainnya. Semua guru, semua murid. Aku bayak belajar dari mereka.

Tahun ini adalah titik balikku kembali menekuni dunia menulis lebih serius. Selain IIP, Pejuang Literasi menjadi komunitas yang mampu menjadi rumah bagiku. Jika di IIP, aku belajar tentang motherhood, parenting dan bagaimana menjadi perempuan yang bahagia. Maka Pejuang Literasi membangunkan tidur panjangku. Aku mulai kembali berkutat dengan proyek-proyek menulis.

2019



Ada dua yang paling berkesan di tahun ini. Yang pertama adalah saat aku mendapat kesempatan mengikuti Konferensi Ibu Profesional (KIP). Dan yang kedua adalah saat suamiku akhirnya mengetuk palu family branding dan visi misi keluarga kami. Terasa semakin jelas arah yang kami tuju. Meski konsisten masih menjadi PR. Komunikasiku dengan suami semakin baik dan hangat.

Namun di akhir tahun ini, aku sempat bimbang dan bosan menjalani kehidupanku sebagai IRT. Sebenarnya salah satu pemicu terbesar karena aku tak tahan setiap hari harus mendengar tetangga depan rumah bertengkar dan berteriak-teriak hampir sepanjang hari. Mau pindah rumah, ya kali nggak segampang itu kan? Beruntung suami mau menjadi ‘tempat sampah’ segala kejengkelanku.

Bahkan saking toxic-nya, aku sempat minta ke suami untuk dibawa konseling. Karena mendengar orang bertengkar adalah salah satu trigger emosiku naik tak terkendali. Pengen nggak didengar kok ya dengar dengan jelas. Aaah, mungkin ini teguran buatku karena dulu pernah jadi tetangga rese juga di awal-awal nikah dulu yaaa...




Begitulah rekam jejak kehidupanku 10 tahun terakhir. Masya Allah.. luar biasa takdir yang Allah gariskan. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang ingin Allah sampaikan kepadaku. Di tahun ini aku nggak punya pengharapan khusus, selain ingin menjadi orang beruntung - orang yang lebih baik dari hari sebelumnya. Doakan aku istiqomah ya, pals. Selamat mengarungi lembar-lembar di tahun double twenty dengan penuh semangat!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

4 comments

  1. Wah keren banget ceritanya, Mbk. Memang mengendalikan emosi itu susah ya ehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mas.. harus belajar setiap saat hehe.

      Delete
  2. Mau komen takut salah, tuan rumah galak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkw.. santai mas.. sekarang sudah jinak kok.. 😅😅😅

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter