MaritaPalace

Tips Program Hamil Bayi Tabung dari Syahki Journey

1 comment
program hamil syahki journey

Ada yang sedang berencana untuk program hamil? Jujur aku juga pengen sih nambah satu atau dua anak lagi. Sayangnya suami masih enggan untuk mengabulkan keinginanku. Mungkin karena dilihatnya aku masih super galak sama anak-anak. Dia takut kalau aku bukannya happy, malah jadi tambah stress, wkwkwk.

Dini hari tadi seharusnya aku menyelesaikan beberapa artikel. Namun tanganku malah berseluncur ke beranda YouTube. Kemudian aku menemukan beberapa tayangan tentang program kehamilan bayi tabungnya Syahki Journey dari Channel The Sungkar’s Family.

Video Syahki Journey sendiri terbagi dalam 3 part. Hampir semua part-nya mampu membuatku menitikkan air mata. Sebagai pasangan yang saat awal nikah juga tidak langsung diamanahi keturunan, aku relate banget dengan obrolan Irwansyah dan istrinya, Zaskia Sungkar.

Seperti yang kita tahu pasangan artis tersebut sudah menikah hampir 10 tahun. Meski sangat harmonis, tak dipungkiri bahwa belum hadirnya buah hati menimbulkan kekosongan di hati mereka. Di tahun-tahun pertama menikah sih mereka bilang masih woles. Gagal inseminasi di tahun kedua pernikahan ya sudah nggak dilanjutkan lagi.

Lalu mereka fokus menjalani hobi travelling keliling dunia. Sampai kemudian mereka menyadari kalau keponakan-keponakan mereka sudah beranjak besar. Titik itulah yang membuat Irwansyah dan Zaskia merasa bahwa inilah aha moment untuk memulai ikhtiar semaksimal mungkin. Lalu bagaimana akhir dari Syahki Journey? Bisa disimak videonya dulu, pals:


Pengalaman Program Hamil

Perjalanan hidup Irwansyah dan Zaskia Sungkar melemparkan ingatanku pada beberapa tahun lalu. Sebulan setelah menikah alhamdulillah dua garis biru tercetak di testpack pertamaku. Rasanya bahagia sekaligus kaget. Tak menyangka akan diberi amanah secepat itu.

Belum juga euphoria menyambut kehamilan pertama tuntas, aku mengalami flek. Panik. Pernah melihat ibu beberapa kali keguguran dan melahirkan bayi prematur, aku trauma. Pikiranku dipenuhi dengan ribuan jangan-jangan.

Singkat cerita kehamilan pertamaku harus dikuretase. Sedihnya bukan main. Namun aku harus move on. Kupikir setelah kosong pasca kuretase, aku bisa langsung hamil lagi. Nyatanya tidak. Aku harus menunggu cukup lama.

Omongan-omongan orang mulai mampir ke telinga. Rasanya menusuk hingga ke hati. Apalagi kalau melihat teman-teman yang menikah setelahku sudah membawa bayinya masing-masing. Ada perih yang tak berdarah.

Pada 2011, tepatnya 3 tahun setelah kuretase pertama terjadi, aku mendapati dua garis biru lagi di testpack. Masya Allah, senang sekali. Bahagianya dua kali lipat dari kehamilan pertama. Sayangnya aku masih belum berjodoh dengan kehamilan. Aku harus kembali ke ruang kuretase untuk kedua kalinya.

Saat itu rasa hancurku lebih besar dari kuretase pertama. Apalagi sebelum kuretase kedua, aku harus menghadapi kenyataan bahwa eyang putri tercinta meninggal dunia. Kondisi ibu yang sudah lama sakit menjadi semakin drop.


proses menanti kehamilan
Selang beberapa minggu setelah kuretase kedua, aku juga harus menerima kenyataan bapak jatuh sakit dan kemudian berpulang ke Illahi Robbi. Masya Allah benar-benar tahun terberat. Di saat kondisi terpuruk itu, Allah justru memberikan kejutan yang luar biasa.

Aku hamil selang satu bulan setelah kuretase kedua. Kehamilan yang secara medis tidak dianjurkan. Jika sesuai anjuran dokter, aku dan suami seharusnya ‘berpuasa’ kurang lebih tiga bulan sebelum merencanakan program kehamilan. Namun mengingat pengalaman ‘puasa’ kami setelah kuretase pertama justru kosong hingga beberapa tahun, rasa-rasanya tak mau ambil resiko tersebut.

Usiaku sudah menjelang 27 saat itu, jika harus kosong lagi sampai tiga tahun, artinya usiaku masuk ke angka 30. Tentunya kesempatan hamil semakin berkurang. Meski anak adalah hak prerogatif Allah, sebagai hamba pastinya ingin berikhtiar yang terbaik kan?

Sebenarnya sebelum kehamilan kedua, aku dan suami sudah sempat berupaya melakukan program hamil beberapa kali. Namun program-program tersebut seringnya berhenti di tengah jalan. Maklum biayanya nggak sedikit, pals.

Bahkan meski belum sampai tahap inseminasi ataupun bayi tabung, sekali konsultasi ke spesialis kandungan saja bisa ratusan ribu. Belum obat-obat yang harus dibeli untuk mematangkan sel telur, vitamin dan lain-lain. Hal paling menyakitkan dalam proses menjadi pejuang garis biru ketika bertemu seorang dokter yang menertawakan kami.
Kalau mau program hamil ya jangan di rumah sakit pemerintah begini. Niat punya anak ya harus siap duitnya.
Sakit sekali mendengarnya saat itu. Tak masalah jika beliau mengatakannya pada sesi konsultasi pribadi. Namun pak dokter itu mengatakannya dengan lantang di depan belasan koas dan pasien lainnya. Mentalku saat itu sangat drop dan memutuskan untuk tak mau lagi menjalani program apapun. Sudahlah pasrah sama Allah mau dikasih kapan dan bagaimana.

Doa Agar Cepat Hamil

Saking pengennya hamil, setelah kuretase yang kedua aku banyak baca artikel mengenai tips cepat hamil di berbagai media. Segala hal yang memungkinkan dicoba akan aku lakukan. Salah satunya yaitu mengonsumsi asam folat dan vitamin E dosis tinggi setiap hari 1 kali.

Kalau dari tips yang kubaca sih seharusnya yang mengonsumsi bukan hanya istrinya, tapi juga suaminya. Namun saat itu suami tidak menjalankannya sih. Selain hal itu, aku juga melakukan puasa selama satu minggu berturut-turut.

Setiap habis sholat aku membaca wirid Ya Mushawirr minimal 100 kali. Dari hasil baca-bacaku ke sana kemari, wirid ini sangat baik dilakukan bagi mereka yang ingin memiliki keturunan. Salah satu Asmaul Husna ini bisa kita temui di Quran Surat Al Hasyr: 24,

lafaz dan arti quran surat al hasyr 24


Pada akhirnya Allah mendengar doa-doaku dan aku pun mendapati dua garis biru pada testpack yang ke sekian. Berbeda dengan dua kehamilan sebelumnya, aku tak menyambut berlebihan. Jujur, aku trauma. Apalagi ketika dua hari dinyatakan positif oleh dokter aku kembali mengalami flek-flek dan bahkan perdarahan. Campur aduk rasanya.

Apa jadinya kalau harus kuretase lagi? Bisa diolok-olok para tenaga kesehatan yang membantu karena nekat hamil di saat harus ‘puasa’. Sembari menanti keputusan dokter, aku terus memperbanyak wirid Ya Mushawirr. Untungnya dokterku kali ini sangat sabar dan memberikan semangat yang luar biasa.

Alhamdulillah, Allah memang paling tahu takdir terbaik untuk hambaNya. Untuk cerita lengkap tentang kehamilan ketigaku yang penuh drama, bisa tengok kisah kelahiran anak pertama.

Tips Program Hamil dari Syahki Journey

Setiap kehamilan memiliki jalan yang berbeda-beda. Tidak ada yang sama persis antara satu dengan lainnya. Itulah kenapa setiap dokter punya caranya masing-masing. Begitu juga kita tak bisa menyamakan proses kita dengan proses kehamilan orang lain.

Sekedar memberikan saran atau berbagi pendapat sih sah-sah saja. Namun jika terlalu memaksa orang lain melakukan hal sama yang pernah kita lakukan, itu pun tak bijak. Setiap pasangan pasti memiliki pemikiran dan keputusannya masing-masing.

Dari tiga video Syahki Journey, aku mendapat beberapa hal yang harus dijalani ketika kita ingin mempersiapkan kehamilan, khususnya lewat program bayi tabung:

tips program hamil bayi tabung (IVF)

1. Jangan Menunda

Syahki bercerita bahwa sebelum melakukan program bayi tabung ini, mereka pernah melakukan program inseminasi namun berujung pada kegagalan. Pada saat melakukan inseminasi, Zaskia masih berumur 24 - 25. Hasil sel telurnya masih sangat bagus, banyak dan besar-besar.

Namun ketika sekarang mereka menjalani IVF (In Vitro Fertilization), jumlah dan ukuran sel telurnya sudah sangat berbeda. Tidak bisa dipungkiri semakin tua usia perempuan, kualitas sel telur pun semakin menurun. Bahkan menurut dokter yang menangani Zaskia Sungkar, kondisi rahim seorang perempuan selama enam bulan bisa sangat berbeda.

Oleh karenanya lebih baik jika setahun setelah menikah belum ada tanda-tanda kehamilan, segera berkonsultasi ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat. Namun tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan dan budget masing-masing keluarga ya.

2. Sabar dan syukur dengan Setiap Prosesnya

Anak memang hak prerogatif Allah. Sebagai seorang hamba, tugas kita hanya berikhtiar semaksimal mungkin. Proses agar Allah segera mengamanahi kita anak bisa jadi mudah, bisa jadi penuh lika-liku. Bagaimanapun kita harus senantiasa bersabar dan bersyukur dengan setiap prosesnya.

Syahki menceritakan betapa panjangnya proses IVF yang dilakukan pasangan artis ini. Dari ukuran sel telur yang tak segera matang dan besar, pengambilan sel telur yang tak mudah, adanya polip di rahim yang harus diatasi terlebih dahulu, 10 embrio yang akhirnya hanya tersisa satu, hingga waktu transfer embrio ke rahim yang harus mundur cukup lama karena adanya corona.

Ketika transfer embrio sudah dilakukan, bukan berarti kehamilan sudah pasti terjadi. Karena dokter hanya mampu mengawal proses hingga ke titik ini, selanjutnya kuasa Allah yang bekerja. Banyak kasus IVF yang gagal padahal sudah sampai di tahap ini. Alhasil harus mengulang dari awal. Artinya butuh waktu yang panjang lagi. Dan tentu saja butuh biaya yang tak sedikit.

Irwansyah dan Zaskia menceritakan bagaimana mereka mengisi hari-hari dengan memperbanyak ibadah. Sholat malam, membaca Quran dan berdzikir adalah cara mereka menjalani program hamil bayi tabung dengan penuh sabar dan syukur.

3. Ikuti Anjuran Dokter

Setelah transfer embrio dilakukan, dokter menganjurkan Zaskia agar tidak coba-coba melakukan testpack. Takutnya jika kadar HCG rendah, testpack tidak bisa membacanya dan malah memberi hasil negatif. Padahal hasilnya belum tentu negatif. Atau sebaliknya bisa jadi testpack memberikan hasil positif, namun ternyata setelah dicek kadar HCG dalam darah negatif.

Terlalu bersedih ataupun terlalu gembira membaca testpack yang belum tentu benar bisa mempengaruhi kondisi psikis sang calon ibu. Itulah kenapa dokter tak pernah menyarankan untuk melakukan testpack pasca transfer embrio. Tes paling valid untuk mengetahui kehamilan dalam proses IVF yaitu tes darah setelah kurang lebih 8 - 10 hari terjadinya transfer embrio.

Anjuran dokter yang harus didengarkan tidak hanya terkait dengan penggunaan tespack, namun juga anjuran terkait pantangan-pantangan selama kehamilan. Misal, mengurangi kegiatan fisik yang terlalu melelahkan, dan menghindari makanan/ minuman tertentu yang bisa berdampak buruk pada kehamilan.

Anggap saja bahwa menjalani anjuran dokter adalah salah satu bentuk ikhtiar terbaik kita dalam proses program hamil.

4. Ikhlas dan Tawakal

Setelah segala rangkaian proses IVF dilakukan, yang bisa dilakukan hanyalah bertawakal terhadap setiap takdir Allah. Kita hanya perlu meyakini bahwa semua takdir Allah adalah yang terbaik. Apapun keputusan yang ditetapkanNya adalah keputusan terbaik. Kita hanya perlu menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan tawakal.

anak adalah anugerah, titipan dan ujian
Melalui napak tilas pada program kehamilanku yang tak mudah, juga berkaca pada Syahki Journey dalam melakukan IVF, aku jadi tersadar betapa berharganya anak-anak. Mereka adalah amanah yang Allah berikan kepada kita.

Betapa sebelum kita memiliki mereka, segala ikhtiar dilakukan. Doa dan air mata membasahi siang dan malam. Namun ketika amanah itu telah diberikan, kok mudah sekali kita menyakiti anak-anak. Entah tanpa sengaja atau dengan sengaja membentaknya, mencubitnya, memukulnya, hanya untuk kesalahan-kesalahan kecil khas anak-anak.

Hari ini ketika anak-anak bikin jengkel, aku tak seheboh biasanya. Video Syahki Journey mengingatkanku tentang amanah yang harus kujaga baik-baik ini. Bukankah kelak setiap amanah akan dipertanggungjawabkan?

Mengingat kembali perjuangan saat hamil, aku juga jadi bisa lebih bersyukur. Bahwasanya ikhtiarku masih cukup mudah. Di luar sana masih ada banyak pasangan yang menanti buah hati. Segala ikhtiar telah dicoba namun belum berhasil jua. Munajat-munajat panjang dihaturkan, berharap bisa menggedor pintu rahmatNya.

Program hamil jenis apapun hanyalah bentuk ikhtiar yang bisa kita lakukan sebagai seorang manusia. Ujung dari semua ikhtiar adalah ketawakalan kita padaNya. Untuk siapapun yang masih menjadi pejuang dua garis biru, tetap bersemangat ya! Sejatinya anak bukan hanya anugerah dan titipan, namun juga salah satu bentuk ujian. Barangsiapa bisa lulus dari ujian tersebut, insya Allah ada banyak keberkahan dan rahmat.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

Post a Comment

Follow by Email