Perjalanan Si Ulat Gemas #2: Keluar dari Zona Nyaman

jurnal #2 bunda cekatan #1 tahap ulat-ulat

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Bukan Bu Septi kalau nggak kasih kejutan. Begitu juga di pekan kedua tahap Ulat-ulat kelas Bunda Cekatan #1. Setelah di pekan sebelumnya, diminta menggali apa saja hal-hal yang kita ketahui dan makanan apa saja yang dibutuhkan oleh si ulat gemas yang ada di dalam diri kita. Pekan ini sebenarnya masih sama, bedanya… dalam membagikan potluck “Aku Tahu Tentang”, para peserta tidak lagi diminta membuat flyer, namun diminta membuat audio ataupun video!

Benar-benar kejutan! Namun sekaligus semestakung buatku. Why? Karena public speaking adalah salah satu sub topik di mindmap 2020; The Sparkling Marita. Itu artinya aku harus memaksa diri keluar dari zona nyaman, yang biasanya asyik bersembunyi dalam aksara, kini aku harus mulai berani menampilkan jati diriku… etdaah!

Ini Potluckku!

Masih jauh dari kata sempurna, namun inilah hasil keberanianku ngecipris di depan kamera:


Yess, aku sengaja memilih topik blog untuk kubagikan dalam potluck-ku. Sesuai dengan pesan dari mentor public speaking-ku tercinta, Mbak Indah Laras;

“Rit, pilih tema yang kamu kuasai biar ngomongnya lebih rileks dan mengalir.”

Kebetulan semangatku belajar ngeblog ke level advance memang sedang tinggi-tingginya saat ini. Sementara tipe belajarku adalah learning by doing. Sembari menambah keilmuan, aku juga senang berbagi atas apa yang telah kupelajari dan kupraktekkan. Di antara hal-hal yang menjadi minat belajarku, blogging adalah topik belajar yang sudah banyak dipraktekkannya dibandingkan hal-hal lain. Makanya kalau ngobrolin blogging, tingkat happiness jadi berkali lipat.

Btw, awalnya aku mau langsung berbagi 7 langkah awal memulai ngeblog, tapi ternyata 9 menit aja belum kelar videonya. Lalu mbak Indah Laras memberikan saran untuk berbagi satu topik saja. Biar nggak terlalu banyak bahasan, lebih fokus dan lebih mudah diingat oleh penonton. Hmm, bener sih, kata mas Teguh Sudarisman waktu aku ikut kelas videography-nya tahun lalu, video yang baik itu nggak terlalu panjang dan nggak terlalu pendek. Yang paling pas antara 3-5 menit. 


Meski belum berhasil menekan durasi jadi 3 menit saja, at least lumayan lah jadi 5.15, itu juga karena ada part opening dan closing-nya. Anyway, buat teman-teman yang lebih suka baca tutorial blogging dalam versi tulisan, aku sudah menulis di Yuk Ngeblog tentang tips memilih niche blog for newbie bloggers. Semoga bermanfaat ya!

Ini Makananku!

Sebagaimana sudah aku bagikan sebelumnya, bahwasanya menuju The Sparkling Marita, ada banyak hal yang harus kukuasai. Namun pada intinya, di tahun ini aku ingin fokus pada membuat jurnal, public speaking dan how to coach.

Membuat jurnal buatku memiliki cabang yang banyak. Dari soal mengatur waktu, mengelola emosi hingga meningkatkan skill menulis. Sementara cabang public speaking bisa berupa dari mendengar lebih baik dan mempelajari teknik-teknik berbicara agar lebih nyaman didengar serta pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik.

Di bagian how to coach, aku ingin fokus pada kelas blogging dan how to do parenting while dealing with inner child/ childhood trauma. Nah, sebelum bisa kasih coaching ke orang lain, tentu saja aku harus bisa coaching diri sendiri serta mempraktekkannya terlebih dahulu.

Dari poin-poin di atas, akhirnya dalam pengembaraan di jungle of the knowledge, aku berhasil menemukan makanan-makanan yang kubutuhkan:


1. Terkait Manajemen Emosi

Mengelola emosi masih menjadi PR besar untukku hingga detik ini. Bahkan saat tulisan tanganku sempat dianalisa oleh Mbak Dee yang sedikit paham tentang grafologi, beliau bilang;

 “Masih impulsif. Tapi sudah cukup tahu cara releasing dan dealing with it.”

Namun ya gitu deh, seperti yang kuceritakan di Stop Screaming, Please!, ada kalanya aku masih mengalami mental breakdown yang kadang bikin aku jadi sumbu pendek.

Nah, makanan-makanan terkait manajemen emosi ini berhubungan sekali dengan sub topik belajarku di how to coach. Cukup banyak teman-teman Bunda Cekatan yang berbagi tentang tema ini, namun 3 potluck ini cukup mewakili yang kubutuhkan. Kebetulan 3 potluck ini alirannya sama. Aku sendiri sebenarnya pernah membaca sekilas dari buku Anger Management, cuma prakteknya masih maju mundur cantik.

Yuk, tengok makanan apa saja yang kudapat untuk topik mengelola emosi:

A. Berdamai dengan Hati disampaikan oleh Unda Pritta

Berdamai bukan sengaja melupakan. Namun menerima apa yang kita rasakan. Jika kita sengaja melupakan, bisa jadi saat kita mengingat kejadian yang tak mengenakkan itu lagi, masih ada rasa sakit atau amarah yang terasa. Namun saat kita berhasil mengingat kejadian buruk di masa lampau dan kita sudah tidak merasakan sakit, itu artinya kita telah berhasil berdamai dengan hati.



Untuk mencapai kedamaian tersebut, kita perlu melakukan langkah-langkah;
  • Pertama, menyadari perasaan diri,
  • Kedua, mengakui dan menerima luka tersebut, baik rasa sedih dan amarahnya. Karena penyangkalan dan pura-pura menutupi justru akan membuat luka di hati semakin menganga.
  • Ketiga, izinkan diri kita untuk mengekspresikan semua rasa di hati. Kalau perlu hadirkan sosok orang yang menyebabkan luka tersebut di dalam pikiran/ imajinasi kita jika terlampau sesak menghadirkannya secara nyata.
  • Keempat, setelah kita mengungkapkan segala rasa di hati hingga plong, lepaskan semuanya.
  • Kelima, maafkan orang-orang yang telah menyakiti kita, bahkan termasuk memaafkan diri sendiri. Terima kasih pada Allah karena telah mengizinkan rasa itu hadir. Lalu tutup dengan mengirimkan doa-doa baik untuk mereka yang telah menyakiti kita, agar kebaikan kembali ke diri kita.

B. Anger Management disampaikan oleh Yuniyanti


Kemarahan biasanya terjadi karena ransel emosi kita terlalu banyak dipenuhi oleh luka di masa lalu/ inner child negatif. Amarah tidak bisa dan tidak boleh dihilangkan, tapi harus dialirkan agar tidak menumpuk dan menjadi bom waktu yang nanti justru membahayakan diri sendiri. Untuk bisa mengelola amarah dengan tepat, ada 4 tahapan yang harus dilewati. Hampir sama dengan materi Unda Pritta; menyadari/ mengenali siapa yang membuat kita terluka, kapan dan di mana kejadiannya, menerima kalau diri kita sedang merasa marah, ijinkan/ perbolehkan diri kita untuk marah, dan yang terakhir berpasrah.


C. Self Healing Sederhana by Sabrina Listaa

Tidak jauh beda dengan dua makanan di atas. Untuk melakukan self healing sederhana ini kita perlu menyadari emosi yang ada dalam diri kita. Jika hari itu emosi yang hadir bersifat positif, maka kembangkan agar menjadi tenaga untuk menjalani hari dengan lebih bersemangat.

Namun kalau kita mengalami emosi negatif, yang harus dilakukan adalah izinkan rasa-rasa yang terkait hadir - entah itu sedih, marah, atau kecewa, jangan tolak perasaan itu dan stop doing toxic positivity. Kemudian beri jeda waktu untuk diri sendiri, lalu lakukan manajemen nafas (tarik nafas, buang dan diimbangi dengan istighfar sambil memaknai istighfar sebenar-benarnya).


Kalau merasa sudah cukup baik, ulang sebanyak yang diperlukan. Setelah mood cukup oke, baru lakukan action. Saat hendak tidur malam, kembali praktekkan manajemen nafas, sambil sounding kepada diri sendiri; “aku terima, aku lepaskan, aku maafkan.” Paginya saat bangun tidur, kuatkan dengan afirmasi positif bahwa hari ini akan baik-baik saja.

Suka banget deh dengan 3 makanan terkait manajemen emosi di atas. Di sini aku seperti diingatkan kembali bahwa it is okay to be not okay, tapi nggak boleh berlarut-larut, harus cari cara untuk mengatasinya dengan baik.

2. Terkait Manajemen Waktu

Dalam mengelola waktu, mau tak mau harus menyadari bahwa aku membutuhkan coretan-coretan tangan agar lebih mantap. Selain mencatat schedule, aku juga butuh journal yang bisa mencatat hal-hal yang kurasakan hari itu, quote-quote penyemangat dan hal-hal khusus yang bisa membuat journalku benar-benar terasa gue banget.


Nah, hasil dari belajar di hutan pengetahuan yang sangat luas dan lebat pepohonannya, aku berhasil menemukan dua makanan yang sejenis. Apa sajakah itu?


A. Bullet Journal disampaikan oleh Delyanet Karmoni



Awalnya kupikir bullet journal itu ribet, harus beli buku yang bagus dan khusus. Dari potluck yang dibagikan mbak Delyanet ini aku jadi tahu bahwa memulai bullet journal itu tidak perlu yang mahal-mahal, buku sederhana pun bisa kita sulap menjadi bullet journal yang istimewa.

Pada dasarnya bullet journal memiliki beberapa komponen wajib;
  • Keys (bullet, segitiga - sebagai penanda mana task yang sudah selesai dilakukan, mana yang ditunda dan mana yang dihentikan. Keys ini kita bisa buat sendiri sesuai kebutuhan dan keinginan, tidak harus saklek dengan apa yang digunakan orang lain.)
  • Index (daftar isi untuk mempermudah kita mencari halaman yang dibutuhkan.)
  • Future Log (untuk mencatat tugas, rencana-rencana dalam setahun ke depan.)
  • Monthly log (berisi catatan hal-hal apa yang akan dikerjakan pada bulan tersebut.)
  • Rapid logging (berisi catatan terkait tugas harian.)
  • Collections (berisi hal-hal yang ingin ditambahkan dalam bullet journal kita, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.)


B. Bebas Hectic, Bikin Hidup Lebih Produktif dengan Bullet Journaling, disampaikan oleh Teh Rektor, Dzikra I Ulya


Sama halnya dengan mbak Delyanet, Teh Chika juga membagikan komponen-komponen basic yang harus ada dalam Bullet Journal; index, future log, monthly log, dan daily log.

Selain komponen basic tersebut, bullet journal juga bisa diberikan elemen tambahan, yang sering disebut sebagai custom collections. Namanya juga custom, jadi isinya bisa sesuai dengan kebutuhan kita, misal jurnal syukur, quranic journal, jurnal belajar, portfolio anak-anak, dsb. Jangan lupa untuk memberi nomor halaman, agar lebih mudah melacaknya di index.

Suka banget dengan pesan yang disampaikan oleh Teh Chika;

Bullet Journal bukan sekedar template cantik, namun bagaimana caranya menggunakan sistem sederhana agar lebih produktif.

Wah seru nih, semakin nggak sabar pengen menyusun bullet journal yang gue banget. Oh ya selain makan dua potluck di atas, aku banyak belajar tentang bullet journal lewat blog mbak Ewa Febri.


3. Terkait Public Speaking

Makanan yang istimewa ini! Saking istimewanya, aku mendapatkan makanannya pun pakai jalur yang nggak standar. Dua makanan istimewa tersebut yaitu;


A. Private Online Coaching by Ibu Septi Peni

Bersyukur sekali bisa jadi bagian dari timnas Institut Ibu Profesional, sehingga aku bisa banyak belajar dari orang-orang hebat di dalamnya. Tak terkecuali bisa mendapat kesempatan istimewa untuk dikoreksi langsung oleh Ibu Septi.

Sebagai bagian dari timnas IIP, mau tak mau aku harus banyak belajar tentang public speaking, karena kemungkinan besar akan ada event-event tertentu yang membutuhkan skill ini. Untuk upgrading skill public speaking, bu Septi turun tangan langsung memberikan coaching yang kece badai.

Kami diminta untuk mengirimkan video perkenalan dengan durasi kurang lebih 1 menit. Hmm, jadi ingat tahun lalu mbak Indah Laras pun pernah melakukan hal yang sama saat meng-coaching Tim KLIK agar siap menjadi pemateri.

Bersyukur pernah dikasih tips-tips dari mbak Indah Laras, seperti soal pemilihan hal yang ingin kita tonjolkan dalam sebuah sesi perkenalan singkat. Hal yang bisa membuat orang mengingat kita dalam waktu lama. Tidak perlu betele-tele namun jleb.


Aku berusaha mempraktekkan ilmu tersebut ketika membuat video yang akan dinilai oleh Bu Septi. Alhamdulillah aku mendapat insight seperti ini dari beliau:

Teruntuk mbak Ririt sayang, peach controlmu sudah bagus, tidak tergesa-gesa. Selalu ada jeda, sehingga membuat orang yang mendengarkan tidak ngos-ngosan. Artikulasi pengucapannya juga bagus. Konten yang dibicarakan punya ruh karena sudah dijalankannya. Bagus, tinggal sekarang belajar melihat respon gestur tubub ketika berhadapan dengan banyak orang di dunia offline. Ini kita harus latihan bertemu atau diceburkan langsung ke ruangan hehehe.

Penasaran video perkenalanku seperti apa? Tunggu saja, insya Allah nanti diunggah ke web official IIP yaks.

Selain belajar dari insight di atas, aku juga mencatat beberapa poin terkait public speaking yang disampaikan Bu Septi untuk teman-teman timnas lainnya, antara lain:

  • Memperhatikan gestur tubuh,jangan sampai ada gestur tubuh yang dilakukan berulang. Biasanya muncul karena grogi, seperti memegang ujung jilbab berkali-kali, menggoyangkan badan tanpa sadar, dsb.
  • Kurangi gerakan tangan yang tidak diperlukan karena bisa mengganggu konsentrasi audiens.
  • Suara dengan tipe lembut cocok untuk audiensi one on one/ private class
  • Jika ingin handling kelas besar, maka harus melatih dan meningkatkan power suara.Caranya dengan latihan pernafasan perut. Jadi ingat zaman-zaman masih main teater nih.
  • Menjaga ritme agar tidak terlalu cepat ataupun lambat. Caranya yaitu dengan berhenti setiap satu kalimat/ memberikan jeda di setiap kalimat.
  • How to conquer the fear, face the fear!
  • A good public speaker should be differentiate between talking and communicating.


B. Hands Movement by Mbak Indah Laras

Aku merasa beruntung karena bisa melihat video potluck mbak Indah sebelum dibagikan secara luas di ruang publik, hehe. Dari video mbak Indah juga aku jadi belajar untuk mengerucutkan topik potluck-ku menjadi satu hal saja.


Video potluck mbak Indah mengangkat tema tutorial public speaking, fokus pada hands movement. Sebagaimana yang Ibu Septi bahwa gerakan tangan yang berlebihan akan mengganggu konsentrasi audiens. Oleh karenanya seorang public speaker harus benar-benar menjaga hands movement agar pas.

Mbak Indah juga mengajarkan membuat imagination box. Hands movement yang kita lakukan harus tidak lebih dari imagination box tersebut. Dari hasil belajarku dengan mbak Indah, aku juga kembali diingatkan bahwa seorang public speaker yang baik harus mampu mengontrol energi dan emosinya.

Ketika kita ada di depan audiens, secara tidak langsung kita akan menyerap emosi dan energi dari audiens. Jika kita tidak mengelola hal tersebut, kita bisa menjadi terlalu antusias, terlalu gembira atau bahkan terlalu sedih. Ketika ada di fase terlalu ini, kita bisa lebih cepat capek dan hasilnya kualitas penampilan bisa menurun. Oleh karenanya kita harus pandai-pandai mengelola emosi dengan memberikan jeda yang tepat.

Mbak Indah juga menyampaikan bahwa public speaking memang butuh dilatih dan ditambah jam terbang agar hasilnya semakin yahud. Jangan pernah takut dengan asumsi orang lain, dan jangan terbebani untuk selalu menjadi yang terbaik. Nyamanlah dengan diri sendiri agar yang keluar dari mulut dan gestur kita pun jadi lebih asyik dan tenang.


Alhamdulillah, pekan kedua yang luar biasa. Selain ‘dipaksa’ keluar dari zona nyaman. Aku juga belajar banyak hal keren di pekan ini. Jadi nggak sabar kira-kira di pekan ketiga bakal dapat kejutan apa lagi ya dari Ibu Septi.

Kalau kalian sama nggak sabarnya dengan aku, kepoin terus catatan perjalanan ulat gemasku di sini ya. Sampai jumpa!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

2 comments

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter