Mengatasi Daddy Issue dengan Riliv, Buktikan 3 Cara Ampuh Ini!

Konten [Tampil]
cara mengatasi daddy issue
Pernah mendengar istilah Daddy Issue? Sejujurnya aku baru mendengar ini beberapa waktu lalu, saat nggak sengaja di explore instagram membawaku ketemu dengan videonya Marshanda. Saat itu doi sedang ngomongin tentang bagaimana caranya mengatasi daddy issue, serta dampaknya dalam hidup doi selama ini.

Ketimbang daddy issue, aku lebih familiar dengan istilah fatherless. Menurutku 11-12 sih. Ya, kalau bisa dibuat dalam kalimat sederhana, bisa jadi seperti ini;
Fatherless adalah salah satu kondisi yang memicu munculnya daddy issue.
Nah, kebetulan aku termasuk orang yang mengalaminya. Jadi aku mau berbagi sedikit tentang hal ini dari kacamataku ya. Disclaimer dulu, aku menulis ini bukan untuk mengungkit luka masa lalu atau membuka aib sendiri, tapi dalam rangka memaknai ulang peristiwa di masa lampau dan membagikan insight positif ke teman-teman kongkow.

Pengertian Daddy Issue

Buat kalian yang mungkin masih nggak terlalu paham dengan istilah ini, aku akan coba menjelaskan dengan bahasa yang sederhana ya. Jadi daddy issue ini adalah kondisi psikologis yang biasanya terjadi pada anak yang mengalami ketidakhadiran sosok ayah di dalam hidupnya alias fatherless.

Btw, ketidakhadiran di sini, bukan hanya fisiknya ya. Namun juga secara psikologis. Ada mungkin anak-anak yang dari kecil sudah yatim, tapi mereka mendapatkan sosok ayah dari kakeknya, omnya, guru ngajinya, guru sekolahnya atau malah tetangganya. Meski ayah biologis tidak hadir, mereka tetap baik-baik saja. Tidak ada kekosongan yang dirasakan.

Begitu juga dengan anak-anak yang mengalami kondisi di mana orangtuanya bercerai, bisa jadi tetap baik-baik saja dan tidak sempat merasakan fatherless, karena ibunya mampu menghadirkan sosok pengganti ayah lewat kakek, atau omnya. Ataupun karena orangtuanya melakukan co-parenting dengan baik, sehingga meski ada perceraian, anak tidak kehilangan kasih sayang salah satu orangtuanya.

Itu kondisi yang paling ideal. Sayangnya hidup nggak selalu ideal. Berapa banyak keluarga yang tidak bercerai, tapi anaknya tak memiliki kedekatan dengan sang ayah? Jangankan ngobrol, mau meminta sesuatu aja rasanya sudah takut sekali. And yes, that’s me!
quote daddy issue
Dulu aku kalau mau minta sesuatu selalu mintanya ke ibu. Untuk kebutuhan-kebutuhan kecil, ibu bisa langsung memberikan. Namun ada kalanya aku juga merengek meminta hal-hal yang besar, seperti minta dibelikan komputer, minta les vokal, atau minta dibelikan HP. Ibu pasti langsung memintaku untuk bicara langsung ke bapak.

Kalau udah kek gitu, mendadak mengkeret. Udahlah nggak usah bilang. Dalam pikiranku tuh kalau nggak diomelin ya kemungkinan besar nggak bakal dikasih. Meski sebenarnya nggak selalu seperti itu sih, bokapku tuh tipe yang pengen lihat anaknya berusaha dulu saat menginginkan sesuatu. Jadi kalau beliau lihat usahaku udah oke, baru deh dikabulin permintaannya.

Cuma karena udah kadung relationshipku ama bokap nggak deket, ya gitu deh. Bapak adalah seorang sopir bus antar kota antar provinsi yang pulangnya hanya seminggu sekali. Jadi tuh emang jarang banget ketemu beliau.

Sekalinya pulang ya nggak begitu ada banyak obrolan. Karena bokap pasti capek, dan lebih suka menghabiskan waktunya di rumah untuk istirahat. Terlebih sejak kecil aku kan sering melihat bapak dan ibu bertengkar, semakin bertambah deh ketakutan untuk memulai obrolan sama bapak. Apalagi ketika akhirnya beliau menikah lagi, itu bener-bener puncak kekecewaanku sebagai anak kepada bapak.

Nah, tanpa sadar pengalamanku di masa kecil itu membentuk gambaran figur seorang ayah dan suami di kepalaku. Bahwa yang namanya laki-laki tuh ya pasti nanti gitu, sibuk dengan dunianya sendiri, nggak perhatian, nggak setia, kasar, suka memukul kalau lagi emosi dan beberapa hal negatif lainnya. Padahal ya benernya banyak hal positif juga dari Bapak, tapi emang emosi negatif itu lebih mudah terekam ya?

Singkatnya, seperti itulah latar belakang kenapa sampai muncul daddy issue di dalam diriku. Untuk tahu lebih lanjut tentang daddy issue, mungkin bisa tonton video Marshanda. Ada sedikit cerita doi tentang masalah tersebut juga di video ini:


Oya, hasil dari aku baca-baca, daddy issue itu nggak cuma ditemukan dalam diri perempuan ya. Laki-laki pun bisa mengalami hal yang sama. Biasanya kalau terjadinya pada diri laki-laki, nantinya saat dewasa, antara dia menduplikasi sifat dan perilaku bapaknya tanpa sadar, atau mengalami gangguan-gangguan lain.

Dampak Daddy Issue pada Diri Anak Perempuan

Aku nggak bisa menjelaskan lebih lanjut dampak daddy issue terhadap anak laki-laki karena aku nggak mengalaminya, wkwk. Ya iyalah kan aku perempuan. However, orangtua suamiku bercerai, dan dia dibesarkan oleh om-om dan buliknya. Jadi sedikit banyak ada sosok-sosok pengganti figur bapak yang dia lihat sehari-hari. So, dampaknya ke suami terkait hubungannya yang tak harmonis dengan bapak biologisnya nggak terlalu besar, tak seperti aku dengan bapakku.

Dampak besar yang aku rasakan tekait dengan daddy issue mulai muncul saat aku menjalin hubungan dengan mantan pacar. Ya, mantan pacar yang sekarang udah jadi ayahnya anak-anak, wkwk. Aku baru menyadari ada yang nggak beres dengan kondisi mentalku ya waktu pacaran itu.

Aku akan dengan mudah terpicu marah saat lihat dia ngobrol sama cewek lain, padahal ya nggak gimana-gimana. But, I didn’t like it. Atau hanya karena dia nyimpan nomor cewek lain, ya kali doi nggak punya temen atau rekan kerja cewek, ye kan?

Sampai karena nggak mau bikin aku overthinking, mas pacar ini nyimpan nomor-nomor teman ceweknya dengan nama cowok. Saat aku tahu, tambah memuncak lah amarahku. Segala kosa kata kebun binatang muncul. Merasa dibohongi, padahal kalau doi nggak bohong ya kondisinya sama aja.

Pokoknya adaaaaaa aja masalah kecil yang jadi besar selama kami pacaran. Bahkan itu berlangsung sampai ke tahun-tahun pertama pernikahan. Jadi kalau ada yang bilang tahun pertama menikah itu indah, tidak berlaku dalam pernikahan kami, yang ada kek neraka, hehe. Bener-bener se-toxic itulah diriku saat itu.

Nah, di otakku kan otomatis terprogram bahwa laki-laki tuh bakal kaya bokapku. Aku nggak menemukannya di mas pacar yang kemudian jadi suami ini. Mo aku sekasar apapun ke dia, dia berusaha tetap lembut dan tenang. Kalaupun udah sangat marah ke aku, dia memilih pergi daripada masalah tambah runyam. Tapi ntar balik lagi buat jemput dan nenangin aku.
pengertian daddy issue
Udah nonton kan video Marshanda yang kubagikan di atas? Alam bawah sadarku nggak terima tuh kondisi yang kek gitu. Wah, kok aneh. Kenapa begini, harusnya tuh nih cowok mukul aku kek, ngomong kasar kek atau malah mutusin aku gitu. Kok dia tetap stay sih?

Bukannya mengapresiasi segala kebaikan si mas pacar, aku malah makin menjadi. Aku selalu cari masalah yang sebenarnya nggak harus ada. Pokoknya nggak pernah lah sehari itu adem tentrem. Mungkin juga karena alam bawah sadarku merekam bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan tuh kudu berantem terus, karena itu yang selama ini aku rekam dari hubungan bokap dan nyokap.

Saat aku lagi ‘waras’, aku ngomong sama mas pacar, “Sepertinya aku butuh bantuan deh. Ada yang nggak beres di dalam jiwaku.” Sayangnya waktu itu kan isu tentang kesehatan mental belum kaya sekarang. Belum paham juga di mana harus cari psikolog dan self healing gitu. Jadi ya doi cuma bisa berkomentar buat sabar dan belajar untuk berubah.

Karena nggak diberesin, atau lebih tepatnya nggak tahu cara gimana mengatasinya, hal-hal buruk tersebut terus berulang. Baru kemudian setelah punya anak pertama dan intens belajar parenting, aku baru tahu tuh tentang fatherless dan innerchild. Dari situ aku intens belajar tentang how to deal with it.

Aku simpulkan dari pengalaman dan hasil baca beberapa referensi, berikut ini dampak daddy issue pada anak perempuan:
  • Gagal mencintai diri sendiri.
  • Merasa insecure dan merasa nggak layak untuk dicintai.
  • Selalu cemas berlebihan ketika pasangan berada jauh darinya.
  • Perlu diyakinkan berulangkali bahwa hubungan dengan pasangan akan selalu baik-baik saja. Dalam kasus ini, mas pacar waktu itu sampai bikin lagu yang liriknya kek gini. “Adinda jangan pernah menyerah, masih panjang jalan tuk kita, lewati sgala tantangan menghadang, percayalah takdir tuk kita, selamanya”.
  • Selalu melihat tanda bahwa relasi dengan pasangan akan gagal.
  • Membutuhkan validasi dari pasangan, dan selalu butuh diyakinkan bahwa dia adalah orang yang paling dicintai.
  • Semua perhatian dan perilaku pasangan yang menunjukkan kasih sayang selalu tak pernah cukup.
  • Posesif, over protective dan cemburuan.
  • Ada juga beberapa orang yang menjadi sangat bergantung pada pasangan, nggak bisa hidup tanpa pasangannya.
Gimana nih, adakah di antara teman-teman kongkow yang mengalami hal-hal di atas?

Cara Mengatasi Daddy Issue dengan 3 Langkah Bersama Riliv

Jika jawabannya iya, berarti kalian perlu mengatasi daddy issue tersebut agar hidup nggak ribet. Asli lo kalau masih terjerat dengan permasalahan itu, hidup tuh kaya nggak asyik. Semua selalu terlihat nggak bener di mata kita.

Jadi bagaimana cara mengatasinya?
langkah atasi daddy issue
Kalau kalian sudah menyadari bahwa ternyata, “Ahaa, kupunya daddy issue nih”, itu sebenarnya sudah masuk dalam tahap healing. Artinya kalian sadar ada masalah dan harus dibenerin. Karena banyak juga yang sebenarnya punya daddy issue, tapi denial, nggak mau ngaku dan merasa baik-baik aja. Alhasil, ya urusan hidupnya nanti bakal muter-muter di situ aja terus.

Setelah menyadari, what’s next? Hal terpenting selanjutnya adalah menerima. Ya, terima aja bahwa masa lalu itu udah terjadi. Bahwa ya udah, memang kenyataannya bokapku dulu emang gitu. Tapi itu kan dulu, nggak sekarang. Saat ini udah beda cerita, dan pasanganku bukan bokapku.

Kalau udah berhasil legowo dengan semua rasa jengkel, amarah dan kecewa yang ada di masa kecil, saatnya untuk let them go. “Hey, thank you ya rasa jengkel, marah dan kecewa yang sudah hadir dan mewarnai hidupku. Aku sekarang udah tahu kenapa kamu muncul dalam diriku. Nah, sekarang udah saatnya aku menyambut rasa yang baru.”

Selanjutnya, berikan peristiwa-peristiwa terkait daddy issue sebuah makna yang baru. Bahwa Allah memberikan kita pengalaman tersebut bukan untuk diratapi, tapi untuk mendewasakan diri kita. Kalau bahasanya para healing coach nih, “Stop the drama and start the new vision!”

Semudah itu kah mbak? Oh, tentu tidak. Prosesnya bisa jadi butuh waktu sehari, seminggu, sebulan atau malah bertahun-tahun. Semua sih kembali ke usaha kita. Namun jikalau kita udah bener-bener hopeless, bahkan mungkin sampai mengganggu lini hidup kita yang lain, misal sampai punya gangguan kecemasan, psikosomatis, insomnia, depresi, dan sebagainya. Sebaiknya sih lakukan konseling dengan ahlinya.

Duh, tapi Covid-19 nya belum kelar, PPKM juga diperpanjang terus. Aku mau konseling ke psikolog atau psikiater jadi worry nih.

Eits, jangan khawatir. Kan sekarang ada Riliv. Pasti kalian langsung kepo kan? Pengen tahu ya Riliv itu apa? Cekidot!
aplikasi konseling online riliv


Apa Itu Riliv?

Riliv adalah aplikasi meditasi dan konseling online nomor 1 di Indonesia. Dengan Riliv, kita bisa mendapat solusi lengkap untuk menjaga kesehatan mental. Kita bisa dengan mudah melakukan meditasi dan konseling secara online dari mana dan kapan saja.

Lalu gimana caranya mengatasi daddy issue dengan Riliv?

1. Riliv Hening

Salah satu fitur yang ada di Riliv adalah tersedianya lebih dari 500 konten meditasi online yang akan membantu kita sehari-hari. Saat emosi negatif lagi terpicu, kenangan-kenangan pahit di masa kecil muncul satu per satu, lalu gangguan kecemasan pun hadir, luangkan waktu untuk #HeningSejenak sekitar 10 menit untuk mendengarkan konten meditasi yang ada di Riliv.
aplikasi meditasi online riliv
Lakukan secara rutin, setidaknya selama 10 hari berturut-turut dan rasakan perubahan yang bisa kita dapat dalam hidup. Jiwa kita akan jauh merasa lebih tenang, damai dan bahagia.

Survey dari tim Riliv membuktikan 94% pengguna Riliv Hening merasa damai setelah menggunakan fitur ini. Para pengguna juga menyatakan bahwa tingkat stress mereka berkurang hingga 45.6%.

2. Riliv Konseling

Ketika meditasi belum cukup membantu, cuzz gunakan fitur Riliv Konseling untuk melakukan curhat online dengan para psikolog yang telah memiliki jam terbang tinggi. Fyi, semua psikolog yang ada di Riliv punya lisensi resmi Himpunan Psikologi Indonesia.

Teman-teman kongkow bisa menceritakan semua masalah daddy issue yang dihadapi, atau mungkin masalah lain terkait relasi dengan orang tua, pasangan, pekerjaan atau pengembangan diri.
aplikasi riliv konseling
Dengan Riliv, konseling jauh lebih nyaman karena dilakukan secara online. Kita bisa dengan bebas bercerita tanpa canggung karena bisa dilakukan di tempat yang paling nyaman buat kita. Waktunya juga fleksibel sesuai dengan jadwal kita.

Untuk biaya juga jauh lebih hemat. Jika biasanya konseling dengan psikolog secara offline berkisar antara Rp300ribu - Rp1juta untuk satu sesi, berkonsultasi lewat RIliv bisa hemat hingga 75% lo. Bahkan konselingnya bisa juga dilakukan dengan teks atau telepon rumah jika teman kongkow pengen merahasiakan nama alias anonim.

3. Riliv Lelap

Mental yang sehat juga dipengaruhi oleh kualitas tidur. Biasanya nih, waktu aku masih terjerat dengan daddy issue, aku bakal sering insomnia. Apalagi kalau habis bertengkar ama mas pacar. Rasanya ada yang nggak mengganjal dan nggak tenang.

Mau telepon atau kirim pesan, sok jual mahal, padahal aslinya kangen, wkwk. Atau kalau nggak, yang dihubungi handphonenya sengaja nggak diaktifin karena lagi marah. Terus aku jadi tambah jengkel dan overthinking. Akhirnya baru bisa tidur menjelang pagi.

Aku juga jadi sering mengalami migren. Dulunya aku nggak ngeh kalau migrenku muncul karena stress. Baru beberapa tahun ini aku sadar saat udah nggak sering mengalami migren, ternyata aku bakal migren kalau lagi cemas, stress, atau lagi dikejar deadline gitu.

Nah, dulu tuh migrennya parah banget. Sampai kalau munculnya menjelang jam tidur malam, ya udah bakal susah banget buat merem. Buat teman-teman kongkow yang mengalami kasus sama atau hampir mirip denganku, cuzz dah lelapkan tidur kalian dengan fitur yang ada di Riliv.
aplikasi online riliv lelap
Jadi di aplikasi meditasi Riliv tersedia juga konten-konten audio berupa suara hujan, musik pengantar tidur atau cerita-cerita pengantar tidur yang bakal bikin diri kita lebih relax. Efeknya, tidur jadi lebih nyenyak, nyaman dan berkualitas. Saat pagi tiba, tubuh jadi lebih segar dan pikiran juga jauh lebih fresh. Siap untuk beraktivitas kembali deh.

Gimana mantap dan bermanfaat kan aplikasi Riliv? Cuzz lah dapatkan di Google Play Store atau di App Store. Oya, buat teman-teman kongkow yang punya usaha atau bisnis, Riliv juga punya platform Riliv for Company. 

Fungsinya untuk menyediakan Employee Assistance Program dengan memperhatikan kesehatan mental karyawan. Dilengkapi dengan meditasi, mood tracker, pengantar tidur dan konseling karyawan secara online.
aplikasi riliv for company
Pastinya kesehatan mental karyawan berpengaruh kan dalam kinerja mereka? Apalagi di masa Covid-19 ini ya, banyak yang secara sadar atau nggak sadar mengalami gangguan mental, entah jadi gampang marah, stress, atau mengalami gangguan kecemasan.

Nah, sebagai pemilik bisnis boleh lah berbaik hati untuk membantu karyawan dalam mengatasi masalah hidupnya. Kalau performa mereka meningkat, kinerja mereka jadi lebih optimal, kan akhirnya berpengaruh positif ke bisnis yang kita jalani to?

Well, aku akhiri di sini dulu celotehku tentang mengatasi daddy issue. Semoga bermanfaat dan salam sehat mental! Sampai jumpa di celoteh-celotehku berikutnya ya, pals!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

13 comments

  1. Iya aku juga kenalnya fatherless sih bukan daddy issue, alhamdulillah dapet vocab baru hehe.. Donlot riliv aahh

    ReplyDelete
  2. Wah iya aku pun tahunya fatherless mbak..
    Lama ga pernah lihat caca
    Jadi inget sinetronnya yang ada ibu perinya..hehe

    ReplyDelete
  3. Iya mbak aku baru denger daddy issue ini, lebih familiar dengan kata fatherless. Jujurly aku speechless sama cerita mba Marita from the start, how struggling ya dengan itu semua. Dari sini aku juga menyadari suatu hal yang ada dalam diriku hehe, thanks for sharing mba.

    Anyway, sekarang aplikasi begini memang dibutuhkan ya. Riliv jadi jawaban semuanya yang butuh healing maupun jasa psikolog secara virtual bahkan bisa anonim, keren bgt sih. Jadi nyaman pastinya :)

    ReplyDelete
  4. sayangnya nggak semua hidup itu ideal ya mba :"

    ReplyDelete
  5. Wah, baru tahu daddy issue itu sama dgn fatherless. Memang penting bgt ya mbak adanya sosok ayah, apalagi buat anak cewe. Perlu bgt ngenalin aplikasi ini sama org² nih.

    ReplyDelete
  6. Wow ada ya aplikasi ini. Aku rekomendasiin ke adikku hahahaha

    Tampaknya menarik.

    Btw, cerita mbak bikin nyes..

    Sini peluk...

    Aku juga tipe yg ga dekat sama bapak. Tapi abah tipe orang yg suka ngobrol , ketidak dekatan kami karena bliu sbuk kerja dan lagi budaya senioritas hahha.

    Tapi setelah dewasa kami jadi banyak ngomong meski cuma basa basi.
    Dikeluarga sdh biasa dg canda saat kami gotong royong bantu kerjaan ortu yg memang pedagang

    Sisi ppsitif dr masa kecil kamo yg mungkin tak sama dg anak kecil yg lain. Hehej

    ReplyDelete
  7. jadi pingin coba si riliv ini mbak. soalnya aku seringkali kesulitan tidur malam

    ReplyDelete
  8. Wah dengan riliv bisa sambil self soothing ya kak. Coba ah

    ReplyDelete
  9. Baru tau juga istilah ini, ternyata bisa ngasih dampak yg luar biasa ya sama anak.

    ReplyDelete
  10. Baik fatherless atau Daddy issues aku baru dengar mbak. Tapi apa yang mbak ceritakan kurang lebih aku juga mengalami, walau dengan kasus berbeda.. terima kasih juga info aplikasi Riliv nyaa..semoga membantu orang2 untuk melepaskan..

    ReplyDelete
  11. daddy issue penting juga nih di edukasi untuk orang tua yang memondokan anaknya agar anak tidak kehilangan peran ayah selama mondok

    ReplyDelete
  12. Ah baca tulisn ini sekarang, jadi relate sama kondisiku kini, menjadi anak yatim tepatnya sih. Meski ada luka juga di masa kecil, ada banyak pembelajaran menarik juga yang didapatkan. Luka itu memang buka untuk dihindari ya..

    ReplyDelete
  13. Ah baca tulisn ini sekarang, jadi relate sama kondisiku kini, menjadi anak yatim tepatnya sih. Meski ada luka juga di masa kecil, ada banyak pembelajaran menarik juga yang didapatkan. Luka itu memang buka untuk dihindari ya..

    ReplyDelete

Post a Comment