header marita’s palace

Wisata Masa Lalu Berujung I am Turning Red!

wisata masa lalu berujung turning red
Kemarin tanpa sengaja aku diajak wisata masa lalu. Bukan oleh siapa-siapa, tapi oleh diriku sendiri. 

Jadi ceritanya, saat aku otewe membuka laptop untuk mengerjakan beberapa tulisan. Suami mengirimiku pesan untuk mencarikan SK penetapan karyawan tetap untuk keperluan kantornya. 

Kutanya pada doi, harus banget sekarang? Dijawab iya. Maka sebagai istri yang berusaha sholehah, wkwk, aku langsung gercep menuju kamar dan membuka document holder tempat kami menyimpan dokumen-dokumen penting.

Setelah satu per satu file kuteliti, dokumen yang kucari nggak ada. Aku lalu ingat terakhir kali menemukan dokumen yang diminta suami, saat kami ke bank untuk mendapatkan pinjaman dalam rangka renovasi atap rumah yang hampir ambrol. 

Wkwk.. iya, baru nyadar SK-nya lagi 'sekolah' biar pinter. 

Karena yang dicari nggak ketemu, dan aku melihat banyak file di dalam document holder yang sudah nggak terpakai. Aku terpikir untuk bersih-bersih sekalian.

Ya begitulah aku. Kalau udah kadung terdistraksi sama satu aktivitas, aktivitas yang tadinya mau dilakuin malah nggak jadi dikerjain.

Mumpung ada waktu, pikirku. Memang udah sempat kepikiran untuk decluttering dokumen beberapa hari terakhir. Hanya saja karena memang nggak ada hal yang memaksaku membuka document holder tersebut, niat itu hanya berhenti sebagai niat.

Makanya mumpung lagi buka-buka document holder, saatnya merealisasikan niat tersebut.

Dari Bersih-bersih Berujung Wisata Masa Lalu

Hampir separuh file di dalam document folder milikku dan suami sudah kusingkirkan. Ya karena memang sudah tak terpakai.

Rata-rata sih yang kusingkirkan file-file asuransi. Aku sudah nggak melanjutkan asuransi jenis apapun. Ya meski belum bisa menghindari riba sepenuhnya, wong masih pakai bank konvensional juga. Namun aku sekarang lebih fokus ke investasi emas sebagai persiapan pendidikan anak dan dana-dana darurat. 

Usai menyelesaikan beberes document holder milikku dan suami, tanganku bergerak ke bagian bawah lemari penyimpanan. Cukup penuh karena dokumen almarhum ibu dan adikku masih rapi di sana. 

Sebagian sudah pernah kubereskan, sebagian lagi masih bingung bagaimana declutteringnya. Apakah disobek saja cukup? Atau harus dibakar?

Namun ada rasa sayang juga untuk membakar SK-SK lama milik ibu. Kalau dokumen milik almarhum adik memang sengaja kusimpan sebagai kenang-kenangan. Isinya hanya raport dari TK - SMP, dan buku kenangan SMU nya. 

Aku teliti satu per satu file yang ada. Beberapa kertas yang dirasa tak penting dan bisa disingkirkan, aku robek dan masukkan ke plastik sampah. 

Oh ya, hasil dari decluttering hari ini, aku akhirnya menemukan surat kematian adik. Aku dan suami memang sempat mencari-cari surat tersebut untuk keperluan balik nama kepemilikan rumah yang kutempati. Sesuai keinginan bapak sebelum pindah ke sini, rumah ini sebaiknya diatasnamakan aku atau suami.

Aku langsung ngabarin suami kalau surat yang kami cari sudah ketemu, jadi bisa siap-siap untuk urus dokumen selanjutnya. I was still okay that time.

surat warisan

Hingga kemudian tanganku menyentuh sebuah plastik berwarna hitam. Kubuka perlahan karena plastiknya sudah mulai rapuh dan koyak. Aku takut jika menggunakan tenaga berlebih, aku bisa merusak tas plastik itu.

Di dalamnya aku temukan sebuah buku tulis berisi tulisan tangan ibuku, dan surat-surat ibu ke bapak. Sebagian isi surat ibu untuk bapak sudah pernah kubaca. 

Saat ibu meninggal enam tahun lalu, aku nggak sanggup untuk membaca surat-surat itu. Hari itu aku merasa sudah baik-baik saja. Pikirku, aku mau tes mental. Sudah sejauh mana aku baik-baik saja, wkwk.

Kubaca selembar dua lembar. Tes... tes... tes. Air mataku mengalir. Membaca surat demi surat yang dituliskan ibu untuk bapak, aku merasa belum sempurna menjadi anak. 

Semasa hidupnya, aku belum sempat benar-benar membahagiakannya. Belum benar-benar tulus merawatnya, masih sering mengeluh. Andai saja aku bisa sedikit lebih sabar. 

Andai saja aku bisa melebihkan usaha dan doaku, keajaiban akan datang dan ibu akan sembuh sebagaimana impiannya. Bisa melihat Ifa tumbuh dewasa dan bertemu dengan Affan, cucu laki-laki yang selalu dinantinya. 

Namun aku tak mau berlebihan dengan panjang anganku. Semua sudah takdir. Kelahiran, kematian, rezeki dan jodoh bukankah sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah? 

Kututup angan-anganku kemarin pagi dengan doa;

Allaahummaghfir laha warham ha wa’aafi ha wa’fu anha wa akrim nuzula ha wa wassi’ madkhola ha waghsil ha bil maa-i wats-tsalji wal barodi wa naqqi ha minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minad danasi wa abdil ha daaron khoiron min daari ha wa ahlan khoiron min ahli ha wazaujan khoiron min zaoji ha wa adkhil hal jannata wa ‘aidz ha min ‘adzaabil qobri wafitnati hi wa min ‘adzaabin naar.

Yang artinya: "Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan dari siksa api neraka."

Selesai membacakan doa untuk ibunda, aku bukannya mengakhiri wisata masa lalu tersebut dengan bergegas membereskan kertas-kertas yang sudah tak lagi berguna. Aku malah lanjut membuka surat demi surat yang ada. 

Kali ini aku bersitatap pada sebuah surat yang punya tulisan tangan berbeda. Ya, itu bukan tulisan ibu. Namun tulisan bapak. Aku baru tahu kalau bapak juga sesekali membalas surat dari ibu.

Btw, aku baru sadar kepiawaianku menulis ternyata diturunkan dari ibu. Aku pun lebih leluasa menyampaikan apa yang ada di kepala daripada lewat lisan. 

Dulu zaman masih pacaran sama suami, dan awal-awal nikah, aku seringkali menulis surat untuknya saat ingin menyampaikan sesuatu secara deep. Kalau sekarang udah jarang sih, lebih sering ngomong langsung atau via WA. 

Meski kalau pakai WA kudu hati-hati nulis bahasan yang agak sensitif. Maklum anak-anak suka pinjam HP kami, berabe kalau dibaca mereka kan, wkwk.

Wokay back to surat balasan bapak buat ibu yang kutemukan. Kulihat di surat itu tertulis tahun 2000. Aku lupa bulan ke berapa. 

Ingatanku lalu melayang pada tahun-tahun tersebut. Awal-awal aku masuk SMA, salah satu masa paling sulit dalam hidupku. Buat yang pernah membaca Welcome March Part 1 dan Part 2 mungkin masih ingat. Yang belum pernah baca, cuzz bisa baca dulu.

dampak fatherless pada anak

Aku baca surat itu. Seketika ada luka lama yang hadir kembali. Luka yang sejak bapak meninggal 11 tahun lalu kukubur perlahan-lahan. Bahkan aku pernah menuliskan ceritaku tentang beliau di dalam salah satu postingan berjudul B-A-P-A-K.

Sebuah postingan yang menjadi janjiku untuk tidak lagi mengungkit-ungkit kesalahannya. Memaafkan segalanya, toh semua sudah berlalu. Bapak pun sudah menghadap Yang Kuasa.

Sebagaimana yang kutulis di artikel tersebut, seumur hidup aku habiskan untuk bertanya-tanya, apakah pernah sekali saja bapak menyayangiku? Karena yang aku rasakan, aku hanyalah anak yang tak pernah dicintai.

Pendapatku tak pernah dianggap, perasaanku tak pernah dinotice. Aku bahkan pernah ada di titik tidak diakui sebagai anak. Yass, se-insecure itu aku! 

Jikalau aku terlihat nggak punya masalah, berprestasi, kek nggak punya beban... ya begitulah caraku menutupi insecurity issues yang aku punya. 

Dalam postingan yang kutulis untuk almarhum bapak itu, aku menulis kebaikan-kebaikan beliau. Itu caraku untuk meyakinkan diriku bahwa bokap pasti punya cinta buatku. Kan aku anaknya, anak pertama lagi.

Aku juga selalu berusaha untuk kasih yang terbaik. Aku memupuk harapan bahwa aku juga layak dicintai oleh bapakku sendiri. Di balik segala 'noda' yang kuingat, aku mencoba meletakkan kepercayaan bahwa ada hal-hal baik di dalam diri bapak yang harus lebih sering kukenang.

penyebab insecure pada diri seseorang

Namun kemarin pagi, surat itu seakan memvalidasi bahwa beliau nggak pernah mencintaiku! Sebuah surat yang berisi tentang pengakuan bapak atas 'kudeta' yang telah dilakukan perempuan lain di dalam rumah tangga ibu dan bapak.

Bukan hanya sebuah pengakuan yang tentu saja tidak lagi mengejutkanku, karena aku sudah tahu hal itu sebelumnya. Toh akhirnya perempuan itu memang kemudian dinikahi bapak secara sah tiga tahun  setelah surat itu dibuat.

Yang membuatku tersayat-sayat adalah sebuah pernyataan bapak yang merelakan ibu pergi jika nggak mau dimadu. Aku baru tahu soal kenyataan ini. Ternyata bapak hampir menceraikan ibu dengan alasan kasihan pada perempuan itu dan bayi yang dikandungnya.

Alasannya tanggung jawab!

Seketika otakku saat itu cuma bisa bilang, edyaaan. Laki-laki yang kuhormati, laki-laki yang darahnya mengalir di tubuhku ini, begitu memikirkan orang lain. Perempuan lain yang baru singgah setahun di dalam hidupnya.

Tanpa memikirkan perasaan istrinya yang saat itu sudah 18  tahun mendampingi. Betapa bapak hanya memikirkan kondisi perempuan sundal itu, tanpa memikirkan perasaanku? Perasaan adikku?

Aku marah sekali pagi itu. Aku ngamuk. Sesuatu yang hanya pernah sekali kulampiaskan pada bapak, itupun hanya lewat surat. Dan sempat bikin bapak masuk ICU karena perdarahan otak.

Begitulah, setiap kali emosiku meledak, selalu ada  tumbal. That's why aku selalu memendam rapat-rapat perasaanku. Menelannya sendiri segala pil pahit yang kurasakan. 

Bertopeng senyuman, padahal di dasar hatiku, aku sangat hancur. Dan pagi itu, aku meledak. Kupikir selama ini bapak nggak pernah bisa memilih salah satu di antara ibu dan perempuan itu. Hingga akhirnya ibu luluh dan meminta bapak menikahinya.

Ternyata aku salah, bapak bahkan pernah merelakan ibu pergi. Bapak bahkan pernah siap kehilangan aku dan adikku demi jabang bayi di perut pelakor itu. Dan gilanya lagi, kenapa ibu nggak pergi saja? Kenapa harus dipertahankan bahkan saat bapak udah siap melepaskan?

Ya, meski akhirnya janin itu keguguran. Namun hubungan mereka tetap berlanjut. Penyakit ibu semakin menjadi, hingga akhirnya mau tak mau ibu mengikhlaskan pernikahan kedua bapak. 

Memang tahu terlalu dalam tentang suatu masalah itu hanya bikin sakit hati ya, pals. Coba aku nggak baca surat itu, hatiku sudah tenang. Benciku pada bapak nggak lagi muncul. Perasaan tak berharga dan tak dicintai nggak lagi hadir.

Pagi itu aku menangis sampai sesenggukan. Kebetulan kak Ifa lagi sekolah dan Affan masih nyenyak terbuai mimpi. Aku benar-benar sesenggukan, dadaku sakit, sampai terbatuk-batuk. 

Aku semakin tersedu ketika membaca halaman terakhir pada buku diary ibu. "Ya Allah, jika sudah habis waktuku, ambillah aku. Namun tolong, ambil sekalian anakku yang kecil. Dia masih membutuhkanku..."

Hatiku kembali tersobek-sobek. Di surat bapak, aku tersayat karena bapak lebih memikirkan perempuan dan janinnya. Di tulisan ibu, aku terasa tersingkir karena yang beliau pikirkan hanya adikku.

Aku tahu sih, saat itu usia adikku masih lima tahun seusia Affan saat ini. Adik juga punya PJB (Penyakit Jantung Bawaan). Aku bisa paham kenapa ibu menulis seperti itu. 

Pasti ibu takut nggak ada yang bisa merawat dan menyayangi Tyas seperti beliau. Bahkan ketika  Tyas meninggal lebih dahulu pada 2013, ibu seperti nggak punya semangat hidup lagi. Ibu merasa tugasnya di dunia sudah selesai. 

caraku self healing

Pagi itu aku merasa sedang berada di sudut sebuah kamar yang sempit. Aku terduduk sambil memegang kakiku, lalu menangis tersedu-tersedu. Persis seperti diriku saat melihat bapak dan ibu bertengkar, piring melayang, jam dinding pecah berhamburan, di balik pintu kamarku.

Saat itulah kemudian aku menyadari, yang saat itu menangis bukanlah aku. Bukan Ririt dewasa yang berusia 37 tahun, dan sudah punya 2 anak. Itu si Ririt Kecil, si inner child yang ketakutan, yang sedih, yang marah, yang merasa tidak disayangi. Then what should I do with her?

When I am  Turning Red, Saatnya Bersahabat dengan Inner Child

Sudah nonton film Turning Red? Bercerita tentang Ming Lee yang mempunyai keajaiban bisa berubah menjadi panda merah saat ia merasakan emosi yang berlebihan. Entah itu karena terlalu marah, terlalu gembira ataupun terlalu sedih.

Keajaiban itu ternyata turun-temurun sejak nenek moyangnya. Diceritakan nenek moyangnya memohon pada dewa untuk memiliki kemampuan membela dirinya. Saat itu semua laki-laki di desanya harus pergi untuk berperang. Di desa itu hanya tinggal perempuan dan anak-anak.

Nenek moyang Ming Lee berusaha sekuat tenaga melindungi desanya. Dewa yang melihat kesungguhannya, akhirnya memberinya kemampuan untuk bisa berubah menjadi panda merah dan mengatasi serangan perompak. 

Bagi nenek moyangnya, panda merah di dalam dirinya adalah anugerah. Namun bagi keturunannya di masa modern, mulai dari nenek hingga ibu Ming Lee, hal tersebut tentu saja adalah bencana.

Ming Lee pun awalnya merasa kondisinya adalah hal yang mengerikan dan memalukan. Namun dalam prosesnya, ia tersadar kalau panda merah itu bukanlah kutukan. Saat ia bisa mengelola emosinya dengan baik, ia bisa mengatur kapan panda merah itu harus keluar.

review film turning red

Gadis cilik itu menyadari bahwa si panda merah adalah bagian dari dirinya. Ia kemudian memutuskan untuk nggak mau melakukan ritual pengusiran si panda merah. Berbeda dengan nenek, para bibi dan ibunya. 

Panda merah di film Turning Red sebenarnya mewakili Inner Child dalam diri seseorang. Inner child nggak melulu hal yang buruk lo. Aku sudah pernah menjelaskan beberapa jenis inner child dalam postingan tentang self worth

Di film tersebut diceritakan bagaimana pada akhirnya Ming Lee berhasil bersahabat dengan inner childnya. Menjadikan hal itu sebagai kekuatan diri. 

Berbeda dengan sang ibu yang selama ini biasa memendam perasaan. Ia berusaha untuk selalu menetralkan perasaan tidak memvalidasi apa yang dia rasakan. Akibatnya, panda merah yang sudah diperangkap di dalam liontin kalungnya, kembali keluar. Wujudnya pun sangat besaaaaar dan terlihat mengerikan.

Dahlah, kalian nonton sendiri biar bisa dapat insightnya. Filmnya sangat layak tonton dengan keluarga. Lucu dan edukatif, tapi aku nontonnya sambil sesenggukan karena relate banget. 

Betapa pentingnya mengelola emosi positif dan berlatih anger management, biar panda merah di dalam diri nggak membesar dan menerkam diri sendiri. 

Back to pada kondisiku kemarin pagi, begitu aku sadar si Ririt kecil yang nangis sesenggukan alias si panda merah. Aku pakai metode helicopter view, kupandangi sosok yang meringkuk itu. Betapa rapuhnya, betapa sakit dan kecewanya. 

Betapa selama ini nggak ada orang yang bertanya apa yang dia rasakan, apa yang dia mau. No one listens. Semua orang hanya bilang, harus begini harus begitu. 

apa itu butterfly hug dan cara melakukannya?

Setelah beberapa saat menggunakan helicopter view, aku menyatu lagi dengan si Ririt kecil. Lalu mengambil jeda dan mengatur nafas. Aku kemudian mengambil posisi butterfly hug sebagaimana di film It's Okay to Not Be Okay.

Aku peluk si Ririt kecil dan bilang;

"Sakit ya? Kecewa ya? It's okay. Kamu boleh kok merasakannya. Kamu nggak sendirian, ada aku. Aku yang selalu nemenin kamu. Aku yang selalu sayang sama kamu. Kita udah melewati semuanya, you did it. Kamu hebat dan kuat. Makasih untuk tetap bertahan sampai detik ini. I love you, Rit."

Aku mengucapkannya berkali-kali sampai merasa tenang. Setelah itu aku merasa butuh cerita pada seseorang. Awalnya aku ingin mengirim pesan pada mbak Dian Ekaningrum, tapi nggak enak, wkwk. Dia keknya lagi sibuk karena pasiennya semakin banyak.

Lalu akhirnya aku kirim pesan pada suami. Aku ceritain kondisiku saat itu. Aku bersyukur punya suami yang supportive. 

Banyak orang yang punya kisah sepertiku, saat menikah kembali bertemu dengan laki-laki yang punya sikap seperti bapaknya. Hingga akhirnya mengalami patah hati berulangkali.

Alhamdulillah, Allah kirim suami yang sedemikian sabar. Padahal dia juga punya lukanya sendiri. Namun dia mampu tetap tenang, semeleh dan move on. 

garwa sigaraning nyawa

Karena saat aku kirim pesan masih jam kerja, tentu nggak mungkin dia berlari pulang kan? Kecuali kalau saat itu, aku kirim pesannya sambil pegang pisau lalu bilang mau bunuh diri, wkwk.  

Dia tahu aku hanya butuh didengar. Malamnya setelah berbuka dengan anak-anak, kami memulangkan mereka ke rumah dan minta izin untuk pergi berduaan. 

Lalu kami nongkrong berdua dan dia membiarkanku menceritakan apa yang kurasakan. Tidak banyak berkata-kata, hanya mendengarkan dan menerima apa yang kurasakan.

Bahkan saat aku bilang, "Kalau perempuan itu datang ke rumah, aku mau mengusirnya. Sudah cukup basa-basiku selama ini. Kenapa ibu harus meninggalkan wasiat yang sangat berat untukku? Tetap berhubungan baik dengan perempuan itu dan anak-anaknya? Why? Aku nggak mau. Kenapa semua orang selalu bilang kasihan perempuan itu, anak-anaknya jadi yatim. How about me? Aku bahkan sudah yatim saat bapakku masih ada di muka bumi!" Suamiku tidak menentangnya sebagaimana orang-orang lain selalu menasehatiku kalau itu nggak baik, bla bla bla bla.

Sebagaimana aku tak pernah bisa memaksanya untuk bersilaturahmi ke rumah bapak kandungnya setiap lebaran. How could I? Sudah memaafkan kok, namun lukanya terlalu menganga. 

Setiap silaturahmi ke sana, lukanya justru membesar lagi karena kami nggak seperti anak yang disambut orang tuanya, tapi seperti tamu jauh yang disambut dengan kikuk dan canggung. Padahal rumah kami dan rumah bapak suami masih sewilayah. 

Well, kembali ke ceritaku soal keputusan untuk nggak mau lagi berhubungan sama perempuan kedua bapak. 

Ya, aku sudah putuskan, aku tak lagi akan menerima perempuan itu dan anak-anaknya kalau-kalau lebaran ini mereka ke rumah. Hubungan mereka cukup dengan bapakku, bukan denganku. Aku bukan ibu yang bisa bermetamorfosa menjadi kupu-kupu bersayap indah, aku memilih untuk tetap bersayap hitam. 

butterfly with black wings

Selalu perempuan itu yang jadi prioritas. Bahkan untuk ibu! Dulu saat ibu baru dapat THR, hal pertama yang dipikirkannya, "Tolong kirimkan sejumlah uang ke adik-adikmu."

Rasanya benci aku mendengar kalimat itu. Setahu dan seingatku, adik kandungku cuma satu. Anak-anak perempuan itu mo sama-sama ada darah bapak di tubuh mereka, aku tak pernah mengakui mereka. 

Memaafkan dan menerima semua hal yang sudah terjadi tidak berarti harus tetap diam dan merelakan kewarasanku lagi dan lagi. Aku memilih untuk tetap waras, dan memutus hubungan dengan mereka. Maaf, tapi aku memang seegois itu.

Menyantuni anak yatim?

Aku bisa mencari anak yatim yang lain kok. Banyak anak yatim yang lebih pantas disantuni. Bahkan terakhir yang aku tahu, anak pertama bapak dari perempuan itu putus sekolah karena gila game online. Yaa, like father like son to? Angel diatur.

Malam itu saat aku deep talk sama suami, udah kek anak Jaksel belum bahasanya, wkwk. Aku bilang, jika boleh mengutuk, aku ingin perempuan itu merasakan sakit yang dirasakan ibuku. Dikhianati suaminya yang sekarang, lumpuh hingga akhir hayatnya!

Aku nggak ingin anak-anak lain mengalami fatherless yang kualami. Namun khusus untuk anak-anak perempuan itu, aku mau mereka merasakannya. Biar mereka tahu sakitku ketika ibunya mengkudeta kehidupan keluargaku!

Well, aku sadar. Semua hal yang kutulis saat ini bukan hal yang bijak.  Sekecewanya kita harus tetap berdoa yang baik-baik katanya. Tapi inilah aku, nggak selamanya ada di posisi semeleh. Aku hanya manusia biasa yang bisa kecewa, bisa marah, bisa patah.

patah hati pertama anak perempuan adalah ayahnya

Aku hanya pengen bilang ke semua pembaca blog ini, terutama untuk para ayah;

Jangan pernah jadi patah hati pertama anak-anaknya, apalagi anak perempuan. Sekalinya patah, sakitnya bisa sampai dewasa. Dan untuk bisa sembuh butuh waktu yang nggak sebentar dan butuh effort yang luar biasa. 

Aku sempat membagikan kalimat di atas pada story whatsappku. Kemudian tak lupa aku mengirim pesan ke suami;

Jangan pernah jadi patah hati pertama anak-anakmu ya, plisss. Biar aku saja yang merasakan sakitnya. Mereka jangan.

Setelah sesi deep talk berduaan di depan tongkrongan favorit kami, doi tanya, "Sudah tenang sekarang?" Aku hanya menjawab dengan anggukan.

Hal terpenting sekarang adalah siapa yang saat ini ada di dekatmu, yang menemanimu. Untuk apa terus terjebak pada masa yang sudah lewat? Ada aku di sini. Ada anak-anak yang butuh kamu. Hadirlah seutuhnya untuk kami. Kami nggak bisa gimana-gimana, kalau nggak dari diri kamu sendiri yang mau move on. 

Then he hugged me tightly. Yup, stop playing victim. That was over and I should move on. Aku hanya perlu menghentikan semua kegilaan yang bisa terjadi di hari-hari berikutnya ketika ada trigger. Bisa jadi karena lagi badai PMS juga sih, makanya so sensitive today.  

my family, my everything

Kesimpulan

Weit, udah kaya artikel serius aja ada kesimpulannya. Namun aku nggak mau mengakhiri tulisan ini dengan ransel kemarahan. Wong aku nulis ini udah dalam keadaan nggak nangis, udah plain dan sudah kembali waras.

Fyi, kemarin mataku sampai bengkak lo. Harusnya kami diundang di dua tempat untuk buka bersama. Namun aku bilang ke suami, kondisiku nggak memungkinkan.

Mataku bengkak, kepalaku pusing karena kebanyakan nangis. Ntar dikira aku lagi berantem lagi ma suami, wkwk. Bahkan asam lambungku pun langsung naik, overthinkingku menjadi-jadi, wkwk.

Ya, segila itu sih kalau udah kadung ketrigger. That's why aku memutuskan untuk menulis ini. Bukan untuk berbagi kemarahan. Namun untuk merangkul siapa saja yang pernah mengalami hal seperti ini. Just wanna say,

Semangaaat. Kamu boleh marah, boleh banget kecewa, boleh banget sedih, tapi setelahnya bangkit lagi ya. Kamu hebat banget masih bertahan sampai detik ini, meski berat, meski sesak, dan kamu masih terus growing. Dan insya Allah akan tetap kuat hingga nanti Allah bilang waktu buat kita sudah habis.

Peristiwa kemarin meski memanggil luka lama, aku baru sadar beberapa hal. Bahwa setiap pernikahan punya kesempatan untuk jadi toxic relationship. Well, I do realize bahkan pernikahanku pun pernah sangat toxic!

Bedanya, dalam kasus bapak dan ibu, aku baru sadar keduanya tidak bertumbuh bersama. Ada komunikasi yang tak sehat, ada over expectation di antara keduanya, ada luka lama yang dibiarkan menganga tanpa ada solusi. Setoxic itu pernikahan mereka.

Namun mengakhirinya dengan perceraian bukanlah hal yang mudah juga buat bapak dan ibu. Mereka menyadari masih ada cinta, meski saling menyakiti satu sama lain. Belum lagi ketika ibu masih PNS, prosedur perceraian jauh lebih ribet. Mempertimbangkan psikologis anak juga keluarga besar.

Banyak hal yang jadi pertimbangan. At least, semua yang kubaca kemarin menjawab pertanyaan yang pernah kulontarkan pada ibu, "Kenapa nggak bercerai sih?"

Ternyata pilihan itu juga pernah terbersit dan hampir diambil kok. Hanya siapa sih yang pengen rumah tangganya hancur? Ya meski akhirnya keputusan yang mereka ambil menghancurkan psikologisku, dan adikku. 

Aku jadi ingat sebuah materi di matrikulasi Ibu Profesional beberapa tahun lalu. Kita nggak pernah salah dihadirkan di dalam sebuah keluarga. PR kita adalah mencari tahu kenapa kita dihadirkan sebagai anak dari bapak dan ibu kita.

Dan kemarin aku lagi-lagi yakin, Allah hanya mau aku bertumbuh menjadi lebih kuat. Syukur-syukur bisa menebar kekuatan itu untuk orang-orang yang mengalami hal serupa.

Aku dan suami juga belajar pentingnya berkomunikasi secara sehat dalam pernikahan, tidak bertengkar di depan anak, dan jangan sampai ribut soal ekonomi. Masalah rezeki sudah diatur Allah, tugas kita adalah ikhtiar dan qonaah. 

Pentingnya bagi suami istri untuk belajar bareng, tumbuh bareng, saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang santun, mengenal bahasa cinta pasangannya dan punya waktu untuk berdua, meski hanya 5-15 menit sehari. 

pentingnya personal growth

Suami juga belajar pentingnya menjadi telinga untuk istrinya, memberikan bahu untuk istrinya bersandar. Kebahagiaan dan kewarasan istri adalah kunci keharmonisan keluarga. Kalau istri nggak bahagia, mana bisa ia nanti merawat anak-anak dengan baik.

Jadi ingat kasus beberapa waktu lalu kan, tentang seorang ibu yang tega menggorok ketiga buah hatinya. Well, tentu saja tidak membenarkan hal tersebut. Namun ransel emosi yang terlalu sesak itu membahayakan mazzeeeh. 

Bapak-bapak yang terhormat, istri-istrimu nggak hanya butuh duit. Mereka juga butuh didengarkan, disapa, diajak ngobrol, dipeluk. Sebagaimana kalian juga mungkin punya keinginan yang sama, maka komunikasikan apa yang diinginkan satu sama lain. Duduk dan bertumbuhlah bareng.

Lalu kemarin membuatku teringat kembali untuk mengingatkan misi keluarga kami; untuk tidak mengulang kesalahan orang tua kami. Perjalanan kami juga penuh duri kok. Namun kami berupaya bahwa hidup sebagai anak-anak broken home, bukan berarti akan jadi broken kids. 

Alih-alih terus merasa menjadi korban, kami berupaya untuk menghentikan lingkaran yang sama. Stop di kami. Stop luka pengasuhan dan membesarkan anak-anak yang bisa meregulasi emosi mereka.

That's why, aku selalu bertanya pada anak-anak; bahagiakah hari ini? Ada yang bikin kalian sedih? Bunda sama ayah bikin sesuatu yang bikin kalian kecewa? 

Kami akan menerima semua perasaan anak-anak. Di rumah ini boleh kok marah, kecewa, sedih, jengkel, asal dikeluarkan dengan tepat. 

Tentu saja masih banyak PR, masih banyak bolongnya. Kami bukan orang tua sempurna, namun kami akan terus belajar dari perjalanan hidup. Doakan kami, doakan aku, doakan kita untuk selalu bisa bertumbuh lebih baik lagi. 

Oh ya, jangan lupa juga satu hal. Maafkan orang tua  kita ya. Sesakit apapun itu. Mereka bisa jadi tidak tahu cara paling tepat untuk mengungkapkan cinta mereka. Mereka nggak kenal parenting, mereka nggak mempersiapkan diri saat menikah. 

Aku tahu kita nggak pernah meminta untuk dilahirkan. Nggak apa-apa kok, bahkan saat kita merasa tidak dicintai oleh siapapun di muka bumi ini, kita punya Allah dan diri sendiri. 

You're enough and you deserve to be loved. 

Semua orang di dunia ini boleh menganggap remeh kita. Namun self love itu perlu. Bagaimana kita bisa membagi cinta pada orang lain kalau kita aja masih gagal mencintai diri sendiri kan? 

Akhir kata, wisata masa lalu diakhiri dengan lagu indah ini. Karaokean yuuuuuk biar feel better, wkwk. Thanks for reading this looong story. Semoga ada yang tetap bisa diambil ya. 

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

9 comments

  1. Terima kasih sudah berbagi kisah, mbak. Rasanya pasti nggak mudah menjalani hari2 dengan adanya luka masa lalu. Tapi kamu kuat menjalani dan menghadapinya dan juga cukup tangguh untuk menceritakannya ke banyak orang yang mana nggak semua orang berani melakukannya. Semoga Allah paringi keluarga yang belimpah mawaddah wa rahmahNya ya mbak sehingga bisa menjadi keluarga yang sakinah ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...makasih banyak mbak untuk supportnya.

      Delete
  2. Mbak gak kerasa aku ikutan nangis, peluk banget mbak marita 🥲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak.. I am fine kok mbak. Peluuuk juga.

      Delete
  3. Peluk mba Marita. Luka yang sama dialami kayak ibuku saat kecil. Pas denger ceritanya dan menyaksikan diri gimana Kakek, sampai skrg jadi blm bisa menerima mereka yang dibilang saudara. Iya, saudara yg terbentuk di atas penderitaan nenekku dan ibuku.
    Semangat mba Mar 😇

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aah.. makasih mbak Jihan. Aku jadi merasa nggak sendiri. Kadang aku merasa aku jahat banget memilih begini, tapi kalau aku terus bertopeng baik, rasanya pun sesak..sementara si perempuan itu nggak pernah sedikit pun merasa salah.

      Thank you ya mbak. Your support means a lot to me.. 😘😘😘

      Delete
  4. Inner child yang sempat diperbincangkan dulu memang gak mudah menghadapi inner child kita sendiri, terlebih kalau belum mengenali. Masalah kesehatan mental juga tidak hanya itu, banyak banget yang jadi tekanan. Nah, pernah juga mencoba butterfly hug memang solusi banget saat perasaan gak stabil.

    ReplyDelete
  5. Terima kasih telah berbagi kisah ini, Mbak. Sebagai sesama broken home, ini cukup memguatkanku lagi.

    ReplyDelete
  6. Baca ini jd ingat kejadianku waktu MI. Kejadiannya mirip. Tp ibuku malah memaafkan dan nyuruh kita hormat ke dia dan anaknya.. Sampai skrg kalau ktmu aku ga sanggup nyapa, jd malas jg nyapa anaknya. Sungguh berat berdamai dgn luka masa lalu itu ya apalagi kalau lembaran itu terbuka lg.

    Semoga kita selalu disadarkan saat terjerembab dlm kebencian dan luka tsb ya mbak. Hug tightly buat mba maritw

    ReplyDelete

Post a Comment